Sabtu, 29 November 2014

2030 in Tokyo


東京 , August 28 2030


Terdengar suara weker yang keras bordering di selimbuti dengan dinginnya kota Mitaka . Ku ambil wudhu lalu ku lakukan shalat shubuh. Ku teringat masa 'Aliyah di Pondok Darussalam dulu, ketika subuh ku di bangunkan oleh sosok manusia yang berdiri tegap dengan suara yang tegas. Bahkan setiap kegiatan ku di Mitaka Tokyo ini, aku selalu teringat masa-masa remaja di Pondok Darussalam  setiap waktu.
Setalah melakukan kegiatan subuh dari sholat subuh sampai sarapan pagi, akupun mulai mempersiapkan sekolah ku di University of Tokyo yang terletak di Bunkyo - Tokyo - Jepang. Aku mengambil jurusan Information of Technology ( Informatika ). Dalam perjalanan, aku bertemu dengan tetangga dan teman sekuliahan jika di daerahku ketika bertemu dengan orang aku selalu mengucapkan “punten”  ke setiap orang. Tetapi kali ini berbeda, aku mengucapkan “Ohaiyou Gozaimasu” atau  “Sumimasen” 


Untuk memenuhi kebutuhan di Tokyo tidak seperti halnya di Indonesia. Makanan-makanan di Jepang tidak semuanya halal. Karena di Jepang islam belum luas dan masih menjadi agama minoritas di jepang. Meskipun ada toko islam di Jepang, itu letaknya lumayan jauh. Jadi, aku harus menggunakan bus mini untuk pergi ke sana. Dan untungnya toko itu adalah toko yang di miliki oleh orang Indonesia asal manado jadi aku tidak susah untuk mencari kebutuhan pokok di Jepang.

            Ketika memasuki musim dingin, penduduk Tokyo berbondong bondong menuju pusat kota untuk menghadiri Festival musim dingin atau biasa disebut “Matsuri Hikaru”. Aku hanya bisa menyaksikan saja karena aku tidak tahu adat istiadat penduduk Tokyo. Aku hanya menikmati saja melihat kembang api yang begitu bertebaran dilangit Tokyo sambil diiringi pawai yang membuat kota Mitaka ini menjadi lautan orang.


            Waktu libur telah tiba, para warga asing pun mulai pulang kampung ke Negara mereka masing-masing termasuk aku pun bersama rombongan Indonesia aku pulang dari bandara International Japan menuju bandara Soekarno Hatta. Mereka di sambut hangat oleh sanak keluarga mereka, aku pun merasa iri tetapi tak apa lah aku mengerti keluarga ku jauh di Sumedang sana mungkin aku hanya dapat memberi mereka sebuah hasil dari apa yang telah ku hasilkan di negeri Sakura sana.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 
Design by : Boedy Acoy | copyright@2010 | Support by : Blogger