東京 , August 28 2030
Terdengar suara
weker yang keras bordering di selimbuti dengan dinginnya kota Mitaka . Ku ambil
wudhu lalu ku lakukan shalat shubuh. Ku teringat masa 'Aliyah di Pondok
Darussalam dulu, ketika subuh ku di bangunkan oleh sosok manusia yang berdiri
tegap dengan suara yang tegas. Bahkan setiap kegiatan ku di Mitaka Tokyo ini, aku
selalu teringat masa-masa remaja di Pondok Darussalam setiap waktu.
Setalah
melakukan kegiatan subuh dari sholat subuh sampai sarapan pagi, akupun mulai
mempersiapkan sekolah ku di University of Tokyo yang terletak di Bunkyo - Tokyo
- Jepang. Aku mengambil jurusan Information of Technology ( Informatika ).
Dalam perjalanan, aku bertemu dengan tetangga dan teman sekuliahan jika di
daerahku ketika bertemu dengan orang aku selalu mengucapkan “punten” ke setiap orang. Tetapi kali ini berbeda, aku
mengucapkan “Ohaiyou Gozaimasu” atau “Sumimasen”
Untuk memenuhi
kebutuhan di Tokyo tidak seperti halnya di Indonesia. Makanan-makanan di Jepang
tidak semuanya halal. Karena di Jepang islam belum luas dan masih menjadi agama
minoritas di jepang. Meskipun ada toko islam di Jepang, itu letaknya lumayan
jauh. Jadi, aku harus menggunakan bus mini untuk pergi ke sana. Dan untungnya
toko itu adalah toko yang di miliki oleh orang Indonesia asal manado jadi aku
tidak susah untuk mencari kebutuhan pokok di Jepang.
Ketika
memasuki musim dingin, penduduk Tokyo berbondong bondong menuju pusat kota
untuk menghadiri Festival musim dingin atau biasa disebut “Matsuri Hikaru”. Aku hanya bisa menyaksikan saja karena aku tidak
tahu adat istiadat penduduk Tokyo. Aku hanya menikmati saja melihat kembang api
yang begitu bertebaran dilangit Tokyo sambil diiringi pawai yang membuat kota
Mitaka ini menjadi lautan orang.
Waktu
libur telah tiba, para warga asing pun mulai pulang kampung ke Negara mereka
masing-masing termasuk aku pun bersama rombongan Indonesia aku pulang dari
bandara International Japan menuju bandara Soekarno Hatta. Mereka di sambut hangat oleh sanak
keluarga mereka, aku pun merasa iri tetapi tak apa lah aku mengerti keluarga ku
jauh di Sumedang sana mungkin aku hanya dapat memberi mereka sebuah hasil dari
apa yang telah ku hasilkan di negeri Sakura sana.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar