Minggu, 30 November 2014

Sejarah Candi Borobudur



Di Indonesia ada bangunan raksasa yang masih banyak misteri tak terpecahkan. Yaitu Candi Borobudur.
Menurut sejarah Candi Borobudur dibangun oleh Raja Smaratungga salah satu raja kerajaan Mataram kuno dari dinasti Syailendra pada abad ke-8. Menurut legenda Candi Borobudur dibangun oleh seo...rang arsitek bernama Gunadharma, namun kebenaran berita tersebut secara hirtoris belum diketahui secara pasti.
Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun.
Sedangkan ketika dilihat dari udara, bentuk Candi Borobudur mirip dengan teratai. Teratai memang salah satu dari simbol-simbol yang dipakai dalam penghormatan (puja) agama Buddha, melambangkan kesucian, mengingatkan umat Buddha untuk senantiasa menjaga pikiran dan hati tetap bersih meski berada di lingkungan yang tidak bersih.

Tahun 1930-an W.O.J. Nieuwenkamp pernah memberikan khayalan ilmiah terhadap Candi Borobudur. Didukung penelitian geologi, Nieuwenkamp mengatakan bahwa Candi Borobudur bukannya dimaksud sebagai bangunan stupa melainkan sebagai bunga teratai yang mengapung di atas danau. Danau yang sekarang sudah kering sama sekali, dulu meliputi sebagian dari daerah dataran Kedu yang terhampar di sekitar bukit Borobudur. Foto udara daerah Kedu memang memberi kesan adanya danau yang amat luas di sekeliling Candi Borobudur.
Menurut kitab-kitab kuno, sebuah candi didirikan di sekitar tempat bercengkeramanya para dewa. Puncak dan lereng bukit, daerah kegiatan gunung berapi, dataran tinggi, tepian sungai dan danau, dan pertemuan dua sungai dianggap menjadi lokasi yang baik untuk pendirian sebuah candi.
Yang menarik dari Candi Borobudur adalah nama arsiteknya, yang bernama Gunadharma. Tapi siapakah Gunadharma?
Tidak ada catatan sejarah mengenai tokoh bernama Gunadharma ini. Diperkirakan Gunadharma merupakan simbol dari nama seseorang yang punya intelektual luar biasa. Ada anggapan bahwa Candi Borobudur dibangun dengan bantuan 'makhluk lain'.
Bahan dasar penyusun Candi Borobudur adalah batuan yang mencapai ribuan meter kubik jumlahnya. Sebuah batu beratnya ratusan kilogram. Hebatnya, untuk merekatkan batu tidak digunakan semen. Antarbatu hanya saling dikaitkan, yakni batu atas-bawah, kiri-kanan, dan belakang-depan. Bila dilihat dari udara, maka bentuk Candi Borobudur dan arca-arcanya relatif simetris. Kehebatan lain, di dekat Candi Borobudur terdapat Candi Mendut dan Candi Pawon. Ternyata Borobudur, Mendut, dan Pawon jika ditarik garis khayat, berada dalam satu garis lurus.
Candi Borobudur merupakan candi Budha, terletak di desa Borobudur kabupaten Magelang, Jawa Tengah, dibangun oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra.
Nama Borobudur merupakan gabungan dari kata Bara dan Budur. Bara dari bahasa Sansekerta berarti... kompleks candi atau biara. Sedangkan Budur berasal dari kata Beduhur yang berarti di atas, dengan demikian Borobudur berarti Biara di atas bukit. Sementara menurut sumber lain berarti sebuah gunungyang berteras-teras (budhara), sementara sumber lainnya mengatakan Borobudur berarti biara yang terletak di tempat tinggi. Bangunan Borobudur berbentuk punden berundak terdiri dari 10 tingkat, berukuran 123 x 123 meter. Tingginya 42 meter sebelum direnovasi dan 34,5 meter setelah direnovasi karena tingkat paling bawah digunakan sebagai penahan. Candi Budha ini memiliki 1460 relief dan 504 stupa Budha di kompleksnya. Enam tingkat paling bawah berbentuk bujur sangkar dan tiga tingkat di atasnya berbentuk lingkaran dan satu tingkat tertinggi yang berupa stupa Budha yang menghadap ke arah barat.
Setiap tingkatan melambangkan tahapan kehidupan manusia. Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap orang yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan kehidupan tersebut.
* Kamadhatu, bagian dasar Borobudur, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.
* Rupadhatu, empat tingkat di atasnya, melambangkan manusia yang telah dapat membebaskan diri dari nafsu namun masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat tersebut, patung Budha diletakkan terbuka.
* Arupadhatu, tiga tingkat di atasnya dimana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang. Melambangkan manusia yang telah terbebas dari nafsu, rupa, dan bentuk.
* Arupa, bagian paling atas yang melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.
Setiap tingkatan memiliki relief-relief yang akan terbaca secara runtut berjalan searah jarum jam (arah kiri dari pintu masuk candi). Pada reliefnya Borobudur bercerita tentang suatu kisah yang sangat melegenda, bermacam-macam isi ceritanya, antara lain ada relief-relief tentang wiracarita Ramayana, ada pula relief-relief cerita jātaka. Selain itu, terdapat pula relief yang menggambarkan kondisi masyarakat saat itu. Misalnya, relief tentang aktivitas petani yang mencerminkan tentang kemajuan sistem pertanian saat itu dan relief kapal layar merupakan representasi dari kemajuan pelayaran yang waktu itu berpusat di Bergotta (Semarang).
Keseluruhan relief yang ada di candi Borobudur mencerminkan ajaran sang Budha. Seorang budhis asal India bernama Atisha, pada abad ke 10, pernah berkunjung ke candi yang dibangun 3 abad sebelum Angkor Wat di Kamboja dan 4 abad sebelum Katedral Agung di Eropa ini. Berkat mengunjungi Borobudur dan berbekal naskah ajaran Budha dari Serlingpa (salah satu raja Kerajaan Sriwijaya), Atisha mampu mengembangkan ajaran Budha. Ia menjadi kepala biara Vikramasila dan mengajari orang Tibet tentang cara mempraktekkan Dharma. Enam naskah dari Serlingpa pun diringkas menjadi sebuah inti ajaran disebut “The Lamp for the Path to Enlightenment” atau yang lebih dikenal dengan nama Bodhipathapradipa.
Salah satu pertanyaan yang kini belum terjawab tentang Borobudur adalah bagaimana kondisi sekitar candi ketika dibangun dan mengapa candi itu ditemukan dalam keadaan terkubur. Beberapa mengatakan Borobudur awalnya berdiri dikelilingii rawa kemudian terpendam karena letusan Merapi. Hal tersebut berdasarkan prasasti Kalkutta bertuliskan ‘Amawa’ berarti lautan susu. Kata itu yang kemudian diartikan sebagai lahar Merapi, kemungkinan Borobudur tertimbun lahar dingin Merapi. Desa-desa sekitar Borobudur, seperti Karanganyar dan Wanurejo terdapat aktivitas warga membuat kerajinan. Selain itu, puncak watu Kendil merupakan tempat ideal untuk memandang panorama Borobudur dari atas. Gempa 27 Mei 2006 lalu tidak berdampak sama sekali pada Borobudur sehingga bangunan candi tersebut masih dapat dikunjungi.
Materi Candi Borobudur
Candi Borobudur merupakan candi terbesar kedua setelah Candi Ankor Wat di Kamboja. Luas bangunan Candi Borobudur 15.129 m2 yang tersusun dari 55.000 m3 batu, dari 2 juta potongan batu-batuan. Ukuran batu rata-rata 25 cm X 10 cm X 15 cm. Panjang potongan batu secara keseluruhan 500 km dengan berat keseluruhan batu 1,3 juta ton. Dinding-dinding Candi Borobudur dikelilingi oleh gambar-gambar atau relief yang merupakan satu rangkaian cerita yang terususun dalam 1.460 panel. Panjang panel masing-masing 2 meter. Jika rangkaian relief itu dibentangkan maka kurang lebih panjang relief seluruhnya 3 km. Jumlah tingkat ada sepuluh, tingkat 1-6 berbentuk bujur sangkar, sedangkan tingkat 7-10 berbentuk bundar. Arca yang terdapat di seluruh bangunan candi berjumlah 504 buah. Tinggi candi dari permukaan tanah sampai ujung stupa induk dulunya 42 meter, namun sekarang tinggal 34,5 meter setelah tersambar petir.
Menurut hasil penyelidikan seorang antropolog-etnolog Austria, Robert von Heine Geldern, nenek moyang bangsa Indonesia sudah mengenal tata budaya pada zaman Neolithic dan Megalithic yang berasal dari Vietnam Selatan dan Kamboja. Pada zaman Megalithic itu nenek moyang bangsa Indonesia membuat makam leluhurnya sekaligus tempat pemujaan berupa bangunan piramida bersusun, semakin ke atas semakin kecil. Salah satunya yang ditemukan di Lebak Sibedug Leuwiliang Bogor Jawa Barat. Bangunan serupa juga terdapat di Candi Sukuh di dekat Solo, juga Candi Borobudur. Kalau kita lihat dari kejauhan, Borobudur akan tampak seperti susunan bangunan berundak atau semacam piramida dan sebuah stupa. Berbeda dengan piramida raksasa di Mesir dan Piramida Teotihuacan di Meksiko Candi Borobudur merupakan versi lain bangunan piramida. Piramida Borobudur berupa kepunden berundak yang tidak akan ditemukan di daerah dan negara manapun, termasuk di India. Hal tersebut merupakan salah satu kelebihan Candi Borobudur yang merupakan kekhasan arsitektur Budhis di Indonesia.
Baca Selengkapnya →

Sejarah Gua Pindul Yogyakarta

Sebagai salah satu obyek wisata, Gua Pindul memang menawarkan pemandangan yang eksotik. Mungkin itulah salah satu faktor mengapa Gua Pindul ini menjadi populer di kalangan para pecinta wisata susur gua. Tetapi mungkin belum banyak wisatawan yang tahu mengenai sejarah Gua Pindul, serta sebuah mata air atau mbelik yang ada di kompleks gua, yang oleh warga sekitar disebut sebagai mBelik Panguripan (Mata Air Kehidupan). Mengapa bisa disebut Mbelik Panguripan, ternyata berkaitan dengan leluhur dan legenda wilayah tersebut. Semuanya berawal dari seorang tokoh bernama Kyai Jaluwesi yang berkonflik dengan raksasa bernama Bendhogrowong. Keduanya terlibat adu kesaktian, dengan keunggulan pada Kyai Jaluwesi. Raksasa itu kemudian mengeluarkan aji-ajinya karena merasa terdesak. Sayangnya aji-aji tersebut meleset dan mengenai seekor anjing peliharaan Widodo dan Widadi, anak kembar Kyai Jaluwesi. Anjing yang bernama Sona Langking itu cedera parah dan berlari tak karuan menuju sebuah sumber air yang ada di balik semak-semak. Kyai Jaluwesi yang mengikuti arah lari Sona Langking kaget ketika mendapat anjingnya telah pulih dari cedera parah akibat aji-aji sang raksasa. Melihat hal itu, Kyai Jaluwesi kemudian menamai sumber air itu sebagai Mbelik Panguripan, karena mampu menyembuhkan luka parah yang diderita anjingnya. Beberapa lama setelah peristiwa itu, muncul sepasang pria dan wanita bernama Kyai dan Nyai Sejati yang ingin menguasai tanah di sekitar Gunung Bang. Mereka meminta kepada Kyai Jaluwesi untuk pindah dari tempat itu, dan Kyai Jaluwesi menyanggupinya. Meski begitu Kyai Jaluwesi menginginkan sebuah syarat, yaitu setelah kepindahannya masyarakat Gunung Bang harus mengadakan acara bersih lepen (sungai), penari ledhek (tayub), pada hari Senin Paing setiap tahun sekali. Kemudian Kyai Jaluwesi pindah ke daerah Gua Pindul, hingga moksa dan diyakini menjadi penunggu di Gua Pindul dan Mbelik Panguripan. Tentu saja legenda tidak bisa dipercaya keakuratannya seratus persen, tetapi pembaca yang baik seharusnya mampu menangkap apa yang ada di balik tiap legenda, bukan malah menganggapnya mistis, ataupun tidak masuk akal. Gua Pindul yang saat ini sedang menjadi primadona wisata susur gua atau cave adventure memang menarik dan menawarkan sensasi yang berbeda dengan wisata-wisata yang sudah umum di Yogyakarta. Tempat ini akan sangat sesuai untuk mengisi waktu liburan ataupun akhir pekan.
Baca Selengkapnya →

Sabtu, 29 November 2014

The Best Teacher in MAN Darussalam



Guru Terbaik menurut saya adalah Pak Aas Hasan Basri,S.Th.I.,M.Pd.I Karena Beliau mempunyai skill dalam mengajanya yang membuat siswa/i menjadi ada kemauan untuk belajar kali ini beliau mengajar kepada kami dalam bidang study Hadist & Ahlaq. Selain skill mengajarnya yang santai, beliau pun membuat pengajarannya menjadi lebih simple dan tidak ribet untuk memahami nya.
Saya ambil contoh dalam pelajaran Ahlaq dalam mempelajari bab “Adab Bertamu” meskpiun beliau sekali-kali memarahi kami karena kami kurang fokus dalam belajar, terkadang kami mengerti apa yang beliau ajarkan kepada kami. Dan beliau juga selalu disiplin dalam hal mengajar kepada kami meskipun sekali-kali beliau tidak masuk dalam pengajaran, beliau selalu memberitahu kepada kami ketika di kelas atau bahkan beliau memberi tugas untuk memahami pelajaran yang selanjutnya.
Mungkin menurut saya seperti itu dan mungkin ada banyak lagi kelebihan beliau lebih dari itu  yang belum saya ketahui terima kasih


|Wassalamualaikum|
Baca Selengkapnya →

MAN DARUSSALAM



Sejarah Berdirinya MAN Darussalam Ciamis

Pada paruh 1929, Kyai Ahmad Fadlil (meninggal tahun 1950) ayahanda K.H. Irfan Hielmy (alm), memulai kisah pendirian Pondok Pesantren dengan sebuah mesjid dan sebuah bilik sebagai asrama. Santri yang pertama mondok adalah pemuda-pemuda setempat yang tidak saja diajarai ilmu-ilmu agama tetapi diajak mengolah sawah, bercocok tanam, dan diberi contoh bagaimana memelihara bilik dan memakmurkan mesjid. Pesantren Cidewa, sebutan untuk komunitas baru itu, dengan cepat mendapat simpati serta dukungan dari masyarakat sekitar bahkan di tahun-tahun pertama mulai dikenal luas dan Iebih banyak lagi santri yang mondok. Tanah Pondok Pesantren Darussalam Ciamis ini adalah hasil wakaf dari suami-istri Mas Astapraja dan Siti Hasanah di Kampung Kandanggajah, Desa Dewasari, Kecamatan Cijeungjing, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat.
Pada tahun 1967 mulai dirintis penyelenggaraan sistem pendidikan formal dengan mengadaptasi model klasikal, dan sampai saat ini semua jenjang pendidikan dari mulai Taman Kanak-kanak (TK) atau Raudlatul Athfal (RA) telah berdiri hingga Perguruan Tinggi.
Lembaga pendidikan formal pertama yang didirikan oleh Pesantren Darussalam Ciamis adalah Raudhlatul Athfal (RA) pada tahun 1967, kemudian pada tahun 1968 berdiri Madrasah Ibtidaiyah (MI) setingkat SD, dan Madrasah Tsanawiyah (setingkat SMP) berdiri pada tahun 1969. Kemudian pada tahun 1969 berdiri Madrasah Aliyah Agama Islam Negeri (MAAIN) yang semula merupakan Madrasah Aliyah Swasta Darussalam Kabupaten Ciamis berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI No. 62 Tahun 1969 pada tangal 2 Djuli tahun 1969. Dan dalam konsideran SK Menteri Agama tersebut dinyatakan bahwa selama Anggaran Belanja Departemen Agama untuk keperluan tersebut tidak mencukupinya, maka biaya pembinaan selanjutnya dibebankan kepada Pengasuh Pesantren Darussalam Ciamis.
Dalam perjalanannya yang telah mencapai usia 41 tahun ini, MAN Darussalam Ciamis berkomitmen pada aturan yang berlaku yang kemudian dikembangkan dengan arah kebijakan madrasah serta pendayagunaan potensi tenaga edukatif, tenaga administratif serta fasilitas sarana yang ada di MAN Darussalam Ciamis. Kondisi demikian tentu akan menunjukan jati dirinya dalam menghasilkan lulusan yang berkualitas. Hal ini dapat dibuktikan dengan berbagai keberhasilan yang dicapai peserta didik.
Demikian pula sebagai arah timbal balik hubungan madrasah dengan masyarakat, MAN Darussalam Ciamis telah menunjukkan perhatian serta kepercayaan masyarakat yang semakin positif. Hal ini pun dapat dibuktikan dengan peminat siswa dari tahun ke tahun yang terus meningkat sehingga dalam penerimaan siswa baru diadakan seleksi melalui batasan nilai (hasil Ujian Nasional dan tes khusus).
Kendatipun demikian, sebagai suatu proses usaha pendidikan yang menghadapi berbagai heteroginitas dalam komponen-komponennya, maka tidak menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang perlu disempurnakan. Oleh karena itu dalam mengoperasionalkan usaha pendidikan pada MAN Darussalam Ciamis, secara berkesinambungan pimpinan madrasah serta seluruh mitra kerjanya senantiasa berfikir inovatif dan prosfektif menuju pendidikan yang bermutu.
Dalam perjalannya sampai sekarang, Alhamdulillah MAN Darussalam Ciamis telah mampu melengkapi dirinya dengan sarana dan prasarana yang tidak kalah dari sekolah lainnya, demi mendukung pengembangan keilmuan yang diharapkan seluruh pihak, misalnya laboratorium Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mencakup Laboratorium Fisika, Kimia, dan Bilogi. Selain itu dilengkapi pula dengan Laboratorium Bahasa dan Laboratorium Komputer.
Demikian pula dengan unsur pendidiknya, MAN Darussalam Ciamis terus berusaha menjalin kerjasama baik dengan sesama pendidik dalam negeri maupun dengan para pendidik dari mancanegara, khususnya dari Asia dan Amerika, juga para siswanya pernah diikutsertakan dalam program pertemuan pelajar ke Jepang, dan guru ke Amerika Serikat (AS).
Disamping itu, MAN Darussalam Ciamis tetap berpegang teguh pada prinsip utama yaitu mencetak manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) tanpa melupakan keimanan dan ketaqwaan (Imtak). Kegiatan keagamaan sesuai ciri Madrasah terus dikembangkan sehingga cita-cita tersebut bisa tercapai.
Keberhasilan penyelenggaraan pendidikan di MAN Darussalam Ciamis dapat tercapai apabila proses pembelajaran mampu membentuk pola prilaku peserta didik sesuai dengan tujuan pendidikan, serta dapat dievaluasi melalui pengukuran dengan menggunakan tes dan non tes. Proses pembelajaran akan efektif apabila dilakukan melalui persiapan yang matang dan terencana dengan baik supaya dapat memenuhi.
Adapun para Kepala yang pernah memimpin/bertugas di MAN Darussalam Ciamis adalah sebagai berikut:
  1. KH. Ibrahim Ahmad (1969 – 1994)
  2. Drs. H. Wahyudin, M. Pd. (1994 – 2004)
  3. Dra. Hj. Eulis Fadilah Jauhar Nafisah, M. Pd. I (2004 – 2010)
  4. Drs. Tatang Ibrahim, M. Pd (2010 – 2012)
  5. Dra. Hj. Eulis Fadilah Jauhar Nafisah, M. Pd. I (2012 – sekarang)

Visi Dan Misi MAN Darussalam Ciamis

A. Visi
Terwujudnya Madrasah yang unggul dalam kepemimpinan dan pengajaran berbasis pesantren dan berwawasan global.
B. Misi
  1. Mengupayakan terwujudnya sistem penjaminan mutu madrasah bertaraf internasional yang ditujukan untuk kepentingan bangsa dan negara
  2. Menciptakan suasana kondusif dalam mewujudkan peserta didik yang berprestasi, cerdas, trampil, kreatif dan produktif
  3. Menumbuhkan dan mengembangkan minat dan motivasi peserta didik
  4. mengembangkan layanan propesional dan manajemen yang terbuka
  5. menyebarkan semangat keteladanan, demokrasi, toleransi dan berpikir positif

C. Tujuan
  1. Menciptakan peserta yang menjunjung tinggi dalam memiliki keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
  2. Menciptakan peserta didik yang menjunjung tinggi dan memiliki kemandirian dalam bersikap, bertindak dan berfikir akhlakul karimah
  3. Mewujudkan suasana kondusip bagi proses pembelajaran
  4. Menyediakan sarana dan media pembelajaran yang efektif dan inofatif
  5. Membangun tenaga kependidikan agar terwujud suasana pembelajaran yang kondusif, efektif dan inopatif
  6. Mendorong tumbuhnya motivasi berprestasi yang tinggi dikalangan peserta didik
  7. Mengimplementasikan KTSP dan budaya komperatif

Sarana MAN Darussalam Ciamis






























Prestasi Siswa/i MAN Darussalam Ciamis

Bidang Keilmuan

  1. Juara 2 Syahril Qur’an Tingkat SLTA Se Jawa Barat di IAIN Bandung Tahun 2003
  2. Juara 1 pidato Bung Karno tahun 2004 di Bandung
  3. Juara 1 Spech Contest Se Kabupaten Ciamis Di Ciamis 2004
  4. Juara 2 Sekolah Sehat se Kabupaten Ciamis 2006
  5. Juara III Pidato Bahasa Arab Se Jawa Barat Di Bandung 2004
  6. Juara 1 Lomba Da’wah se Jawa Barat 2005
  7. Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Arab Se Priangan Timur 2005
  8. Juara 1 Pidato Bahsa Arab Tingkat Nasional Di Palembang Tahun 2005
  9. Juara 2 Lomba Menulis Surat Untuk Penguasa Se Kabupaten Ciamis
  10. Juara Khutbah Jum’at Tingkat Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag Tahun 2006 Tingkat Kabupaten Ciamis
  11. Juara 2 Raimuna Tingkat Kabupaten Ciamis Tahun 2008
  12. Juara 3 Lomba Olimpiade B. Arab se-Jawa Barat Tahun 2008
  13. Juara 3 Lomba Spech Contest se-Priangan Timur Tahun 2012
  14. Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Inggris se-Jawa Barat Tahun 2012
  15. Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Inggris Tingkat Nasional Tahun 2013

Bidang olah raga

  1. Juara 2 Sepak Bola Se Priangan Timur di Garut Dalam Rangka Pospenas 2006
  2. Juara 1 Bolla Volly Tingkat Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag
  3. Juara 1 Volyy Ball Tingkat KKM MAN Darussalam Ciamis Tahun 2005
  4. Juara 2 Tenis Meja  ( Pa ) Porseni Tingkat Nasional Tahun 2006
  5. Juara 1 Atletik Tingkat Priangan Timur Dalam Rangka Pospenas Di Garut 2007
  6. Juara 2 Tenis Meja Putra Tingkat Kabupaten Ciamis (Bapopsi) 2007
  7. Juara 1 Tinju Kelas Bantam Dalam Rangka Porkab Kabupaten Ciamis (Atas Nama Fauzan) 2007
  8. Juara 2 Futsal se-Kabupaten Ciamis Tahun 2012

Bidang Seni

  1. Juara 3 lomba nasyid se-priangan timur 2008
  2. Juara satu penyanyi qasidah moderen tingkat priangan timur 2008
  3. Juara 2 Nasyid se- Kabupaten Ciamis Tahun 2008

Diperoleh oleh Madrasah

  1. Juara 1. Bola Voly Guru Putri se- Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag Tahun 2007
  2. Juara 2 Bola Voly Guru Putra se- Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag Tahun 2007
  3. Juara 3 Tenis Meja Guru Putri se- Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag Tahun 2007
  4. Juara 2 Membuat Nasi Tumpeng Guru Putri se- Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag Tahun 2007
  5. Juara Umum se- Kabupaten Ciamis Dalam Rangka Hab Depag Tahun 2007

     Source  : http://www.mandarussalam.sch.id/
Baca Selengkapnya →

2030 in Tokyo


東京 , August 28 2030


Terdengar suara weker yang keras bordering di selimbuti dengan dinginnya kota Mitaka . Ku ambil wudhu lalu ku lakukan shalat shubuh. Ku teringat masa 'Aliyah di Pondok Darussalam dulu, ketika subuh ku di bangunkan oleh sosok manusia yang berdiri tegap dengan suara yang tegas. Bahkan setiap kegiatan ku di Mitaka Tokyo ini, aku selalu teringat masa-masa remaja di Pondok Darussalam  setiap waktu.
Setalah melakukan kegiatan subuh dari sholat subuh sampai sarapan pagi, akupun mulai mempersiapkan sekolah ku di University of Tokyo yang terletak di Bunkyo - Tokyo - Jepang. Aku mengambil jurusan Information of Technology ( Informatika ). Dalam perjalanan, aku bertemu dengan tetangga dan teman sekuliahan jika di daerahku ketika bertemu dengan orang aku selalu mengucapkan “punten”  ke setiap orang. Tetapi kali ini berbeda, aku mengucapkan “Ohaiyou Gozaimasu” atau  “Sumimasen” 


Untuk memenuhi kebutuhan di Tokyo tidak seperti halnya di Indonesia. Makanan-makanan di Jepang tidak semuanya halal. Karena di Jepang islam belum luas dan masih menjadi agama minoritas di jepang. Meskipun ada toko islam di Jepang, itu letaknya lumayan jauh. Jadi, aku harus menggunakan bus mini untuk pergi ke sana. Dan untungnya toko itu adalah toko yang di miliki oleh orang Indonesia asal manado jadi aku tidak susah untuk mencari kebutuhan pokok di Jepang.

            Ketika memasuki musim dingin, penduduk Tokyo berbondong bondong menuju pusat kota untuk menghadiri Festival musim dingin atau biasa disebut “Matsuri Hikaru”. Aku hanya bisa menyaksikan saja karena aku tidak tahu adat istiadat penduduk Tokyo. Aku hanya menikmati saja melihat kembang api yang begitu bertebaran dilangit Tokyo sambil diiringi pawai yang membuat kota Mitaka ini menjadi lautan orang.


            Waktu libur telah tiba, para warga asing pun mulai pulang kampung ke Negara mereka masing-masing termasuk aku pun bersama rombongan Indonesia aku pulang dari bandara International Japan menuju bandara Soekarno Hatta. Mereka di sambut hangat oleh sanak keluarga mereka, aku pun merasa iri tetapi tak apa lah aku mengerti keluarga ku jauh di Sumedang sana mungkin aku hanya dapat memberi mereka sebuah hasil dari apa yang telah ku hasilkan di negeri Sakura sana.


Baca Selengkapnya →
 
Design by : Boedy Acoy | copyright@2010 | Support by : Blogger